PENGARUH KINERJA BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) DAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN MAGELANG

*Fitrin Yunita  -  Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Indonesia
Sriroso Satmoko  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Wiludjeng Roessali  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 23 Jul 2018; Published: 12 Nov 2018.
Open Access Copyright 2018 Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 522 609
Abstract

This study aims to analyze the performance of agricultural extension centers, analyzing the application of PTT technology of rice, as well as analyzing the performance of Agricultural Extension Centers (BPP) in influencing the adoption of PTT and rice production in the district of Magelang. The basic method of research is quantitative descriptive survey approach. Exogenous variables in this study were BPP performance, while the endogenous variable is the adoption of PTT and rice production. The population in this study is 21 BPP in Magelang. The sampling technique used method purposive sampling.  Respondents in this study a number of agricultural extension 148 and 148 farmers. Data collection techniques by observation and interviews. Analysis of the data used is Path Analysis.  The results showed that the performance including the BPP in either category. Adoption PTT Rice in Magelang District including the high category. Production of rice in Magelang included in the category increased. BPP performance significantly influence farmers' adoption. Adoption PTT of Rice in Magelang Regency significantly affect rice production. BPP performance in Magelang significantly affect rice production. Increasing rice production would be done if supported by the performance of BPP and implementation optimal PTT of rice, the BPP's role should be improved through capacity building extension, the provision of infrastructure and funding to support the program in order to increase rice production, especially in the district of Magelang.

 

Keywords: Agriculture Extension Centers (BPP); Adoption PTT of Rice; Production

Article Metrics:

  1. Allen H. F., M. M. Batubara, dan H. Iswarini. 2015. Kendala penyuluh dalam melaksanakan aktivitas penyuluhan pada usahatani kopi di Kecamatan Dempo Utara Kota Pagar Alam. J. SOCIETA. 4(2) : 105 – 110.
  2. Arifudin, E. Sayamar, S. Edwina dan W. Rizki. 2013. Implementasi UU SP3K pada kelembagaan penyuluhan pertanian di Kota Pekanbaru. J. SEPA. 9(2) : 190-200.
  3. Faqih, D. Dukat dan R. Susanti. 2015. Efektivitas metode dan teknik penyuluhan pertanian dalam penerapan teknologi budidaya padi sawah (Oryza Sativa L.) sistem tanam jajar legowo 4:1 (Studi kasus di Kelompok Tani Silih Asih Desa Ciomas Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan). J. AGRIJATI. 28(1) : 45-67.
  4. Darwis, V. 2008. Keragaan penguasaan lahan sebagai faktor utama penentu pendapatan petani. Seminar nasional dinamika pembangunan pertanian dan pedesaan : tantangan dan peluang bagi peningkatan kesejahteraan petani. Bogor, 19 November 2008.
  5. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian.
  6. Haryono, S. dan P. Wardoyo. 2012. Structural Equation Modeling. PT. Intermedia Personalia Utama, Bekasi. Harinta, Y. W. 2011. Adopsi inovasi pertanian di kalangan petani di Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo. J. Agrin. 15(2) : 164-174.
  7. Hermawan, A., T. R. Prastuti, A. Choliq, S. Bahri dan Samijan. 2011. Kaitan antara tingkat penerapan teknologi (TPT) pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan produktivitas padi di Jawa Tengah. Prosiding semiloka penguatan pengelolaan tanaman terpadu dan antisipasi perubahan iklim untuk peningkatan produksi pangan. Kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Halaman 6473.
  8. Indraningsih, K. S. 2015. Implementasi dan dampak penerapan legislasi penyuluhan pertanian terhadap capaian swasembada pangan. J. Analisis Kebijakan Pertanian 13 (2) : 109-128.
  9. Jamil, M. H. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Dampaknya pada Perilaku Petani Padi di Sulawesi Selatan. Disertasi Doktor, Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB. Online http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53628. Diakses pada tanggal 20 Februari 2017.
  10. Jatuningtyas R.K, E. Rohman dan A. Choliq. 2015. Persepsi Penyuluh Pertanian Lapang Terhadap Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Serta Penerapannya di Tingkat Petani Di Kabupaten Tegal. Prosiding Seminar Agribisnis “Inovasi Agribisnis untuk Peningkatan Pertanian Berkelanjutan. Program Studi Agribisnis Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro dan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Komda Semarang : 474 – 484.
  11. Kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. 2014. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13/Per/OT.140/J/01/14 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Manajmen Pimpinan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Jakarta.
  12. Kementerian Pertanian. 2010. Usaha Tani Padi dengan Pendekatan PTT. Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Pertanian. Jakarta.
  13. Kementerian Pertanian. 2013. Petunjuk Teknis Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Jakarta.
  14. Krisnawati, N.Purnaningsih, dan P. Asngari. 2013. Persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian di Desa Sidomulyo dan Muari Distrik Oransbari Kabupaten Manokwari Selatan. J. Sosio Konsepsia. 3 (1) : 301 – 312.
  15. Mardikanto, T. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
  16. Mulyani, S. I. dan E. Jumiati. 2014. Peningkatan produktivitas padi melalui pendekatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT) Di Kecamatan Sesayap Hilir Kabupaten Tana Tidung. J. AGRIFOR. 13(1) : 7584.
  17. Nazir, M. 2013. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor.
  18. Pelawi, W. D. P., Rosnita, Roza Yulida. 2016. Analisis kelembagaan penyuluhan pertanian di Kabupaten Kampar. J. Ilmiah Pertanian. 13 (1) : 1-14.
  19. Pribadi, Y. 2016. Analisis Dampak dan Efektivitas Pendampingan Terhadap Adopsi Teknologi PTT dan Produktivitas Padi Sawah di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian 20 Juli 2016. 500-508.
  20. Rakhmat, J. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
  21. Salaman, D. Rahmadanih, M. Fahmid, M. Saleh dan S. Ali. 2015. Kapasitas pembelajaran organisasional dan kinerja inovasi pada balai penyuluhan pertanian tingkat kecamatan (Kasus BP3K Polongbangkeng Utara Kabupaten
  22. Takalar Sulawesi Selatan). Prosiding konferensi nasional XVII dan Kongres XVI Tahun 2014 Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia. 584-593.
  23. Samijan, R. Endrasari, S. C. Budisetyaningsrum dan Sudadiyono. 2011. Kajian Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Introduksi Vub Dengan Menggunakan Pendekatan PTT Di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Prosiding Semiloka 2011 Penguatan Pengelolaan Tanaman Terpadu Dan Antisipasi Perubahan iklim Untuk Peningkatan Produksi Pangan. Kerjasama BPTP Jateng, Pemprov Jateng dan UNS. Halaman 224-232.
  24. Soekartawi. 1996. Pembangunan Pertanian Untuk Mengentas Kemiskinan. UI Press. Jakarta.
  25. Sudana, W. dan K. Subagyono. 2012. Kajian faktor-faktor penentu adopsi inovasi pengelolaan tanaman terpadu padi melalui sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 15 (2) : 94-106.
  26. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Manajemen. Alfabeta, Bandung.