skip to main content

Transformasi Spasial dan Fungsi Ruang Alun-Alun Kota Magelang

*Galih Setyo Aji  -  Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi bentuk ruang dan pengaruhnya terhadap perubahan fungsi ruang terbuka Alun-Alun Kota Magelang dari tahun 1810 hingga 2024. Sebagai elemen utama dalam tata ruang kota tradisional Jawa, alun-alun memiliki fungsi kosmologis, politis, dan komunal yang merefleksikan keharmonisan antara kekuasaan, agama, dan kehidupan masyarakat. Namun, seiring waktu, konfigurasi fisik dan makna simbolik Alun-Alun Kota Magelang mengalami perubahan signifikan akibat intervensi kolonial, modernisasi, dan perkembangan kota kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deduktif dengan analisis ruang diakronik–sinkronik untuk menelusuri evolusi bentuk ruang dari era tradisional, kolonial, hingga modern. Data dikumpulkan melalui studi arsip, observasi lapangan, serta wawancara dengan sejarawan lokal dan perencana kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan bentuk ruang, seperti pergeseran orientasi alun-alun, transformasi bangunan di sekitarnya, dan munculnya fungsi-fungsi baru perkotaan telah memengaruhi pergeseran fungsi dan makna alun-alun. Pada periode tradisional (1810–1830), alun-alun berfungsi sebagai pusat kosmologis dan politik, dengan keterhubungan ruang antara keraton, masjid, dan pusat pemerintahan yang melambangkan keseimbangan tatanan semesta. Selama periode kolonial (1830–1945), harmoni ruang tersebut terganggu karena alun-alun diubah menjadi instrumen kekuasaan kolonial, dikelilingi kantor pemerintahan, benteng, dan gereja. Sedangkan pada era modern (1945–2024), fungsi alun-alun bertransformasi menjadi ruang publik perkotaan yang berorientasi pada rekreasi, pariwisata, dan interaksi sosial, mencerminkan modernitas urban sekaligus memudarnya nilai-nilai kosmologis tradisional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi bentuk ruang Alun-Alun Kota Magelang berpengaruh signifikan terhadap perubahan fungsi ruang terbukanya dari makna sakral dan hierarkis menuju fungsi ruang kota yang sekuler dan inklusif. Pergeseran ini menggambarkan transisi urban di Jawa dari tatanan kosmologis simbolik menuju pemanfaatan ruang yang pragmatis. Hasil penelitian menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai sejarah dan budaya dalam perencanaan kota masa depan guna menjaga identitas alun-alun sebagai ruang publik sekaligus penanda sejarah Kota Magelang.

Keywords: Transformasi Ruang, Ruang Publik, Alun-Alun, Kota Magelang, Morfologi Kota, Lanskap Budaya

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID
  1. Angestiwi, T., Oktavia, H. C., & Noviandini, R. A. (2023). Pengukuran Kualitas Aset Alun-Alun Pagaden di Kabupaten Subang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 19(4), 502 – 517. https://doi.org/10.14710/pwk.v19i4.46450
  2. Ardianta, D. A., Yatmo, Y. A., & Atmodiwirjo, P. (2023). Body’s Movement as Drawing: Notation and Annotation in The Construction of Space at Alun-Alun Solo. Jurnal Kejuruteraan, 6(1), 69-77. https://doi.org/10.17576/jkukm-2023-si6(1)-07
  3. Ardıçoğlu, R. (2026). Application of Morpho in Urban Design and Planning Practice: Addressing Historical Urban Areas. Buildings, 16(1), 28. https://doi.org/10.3390/buildings16010028
  4. Arslanli, K., Unlukara, T., & Dokmeci, V. (2011). Transformation of Public Spaces in Istanbul. European Planning Studies, 19(6), 1061–1089. https://doi.org/10.1080/09654313.2011.571434
  5. Aswad, W. O. S. J., & Setyaningrum, I. A. (2025). Analisis Fungsi Kawasan Alun-Alun sebagai Ruang Terbuka Publik di Perkotaan Namlea, Kabupaten Buru. Journal of Plano Studies, 2(2), 66–77. https://doi.org/10.36982/jops.v2i2.6350
  6. Ayudya, D., & Ikaputra, I. (2022). Memahami Perkembangan Kota Melalui Urban Morphology. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 18(3), 235 – 245. https://doi.org/10.14710/pwk.v18i3.36135
  7. Bal, W., Czałczyńska-Podolska, M., & Szymski, A. (2022). The Tradition and Symbols of a Place in Shaping Public Spaces through the Example of the Transformation of Litewski Square in Lublin, Poland. Sustainability, 14(15), 9161. https://doi.org/10.3390/su14159161
  8. Behrend, H. (2007). Kraton, Taman and Masjid: A Brief Survey and Bibliography Review of Islamic Antiquities in Java. University of Auckland
  9. Budihardjo, E. (1997). Arsitektur Kota di Indonesia. Bandung: Alumni
  10. Camerik. (1864). Koleksi Foto Hindia Belanda, Seri KITLV 91633. Leiden: Universiteit Leiden, Digital Collections
  11. Carr, S., Francis, M., Rivlin, L. G., & Stone, A. M. (1992). Public Space. Cambridge: Cambridge University Press
  12. Carmona, M. (2003). Public Space, Urban Space. Burlington: Architectural Press
  13. Carmona, M., Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. (2010). Public Places, Urban Spaces: The Dimensions of Urban Design. Oxford: Routledge
  14. Dwiputri, M. T. J. (2024). Kajian Implementasi Prinsip Desain Inklusi pada Ruang Publik, Studi Kasus Alun-Alun Sidoarjo. Aksen: Journal of Design and Creative Industry, 8(3). https://doi.org/10.37715/aksen.v8i3.4749
  15. Farestianto, A. N., & Nugroho, M. S. P. (2022). Identifikasi Alun-Alun Brebes sebagai Ruang Terbuka Publik dengan Pendekatan Fungsional. In Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur (pp. 326-333)
  16. Febiola, M. F., Soelistyari, H. T., & Alfian, R. (2024). Analisis Tingkat Kenyamanan Ruang Terbuka Hijau Publik pada Taman Alun-Alun Merdeka Kota Malang. Jurnal Lanskap Indonesia, 16(2), 154–160. https://doi.org/10.29244/jli.v16i2.50231
  17. Firmansyah, M. A., Ramadani, N. A., Alfionisystrya, O., & Utomo, H. P. (2022). Kajian penataan ruang personal pada ruang publik Alun-Alun Batu. ADBE, 2(1), 162-171
  18. Gahl, J. (1996). Urban Public Space and Social Interaction. New York: Urban Studies Press
  19. Ginzarly, M., El Khoury, R., & Srour, F. J. (2024). Public Space and Everyday Heritage: An Inquiry Into Children’s and Adults’ Perception. City, Culture and Society, 38, 100594. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ccs.2024.100594
  20. Handinoto. (1992). Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Surabaya: Unika Widya Mandala Press
  21. Handinoto. (1992). Perkembangan Kota di Jawa Abad 19 dan 20: Tinjauan Historis Arsitektur dan Perkotaan. Surabaya: Universitas Kristen Petra Press
  22. Handinoto. (1996). Tata Ruang Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Surabaya: Unika Widya Mandala Press
  23. Handinoto. (2010). Alun-alun sebagai Identitas Kota di Jawa Dulu dan Sekarang. Surabaya: Universitas Kristen Petra
  24. Handinoto. (2010). Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu
  25. Heldring, O. G. H. (1880–1885). Koleksi Digital KITLV, Seri 36D484. Leiden: Universiteit Leiden
  26. Indayana, R., Hayati, N. N., & Revana, D. Q. (2023). Pengembangan prioritas Alun-Alun Situbondo sebagai ruang terbuka publik. Vitruvian: Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan, 13(1)
  27. Ilyas, A. (2016). Ruang Publik dan Aktivitas Sosial Masyarakat Perkotaan di Indonesia. Yogyakarta: UII Press
  28. Jannah, S. M., & Nurhidayah. (2022). Transformasi Bentuk dan Fungsi Alun-Alun Kejaksan sebagai Ruang Terbuka Publik. Jurnal Arsitektur, 14(2)
  29. KITLV. (1923). Koleksi Digital Universiteit Leiden, Seri KK 163-05-05/06_002
  30. KITLV. (Abad 19–20). Koleksi Digital Universiteit Leiden, Seri 1407284
  31. Kohori, T., Hadi, A. A., & Furuya, K. (2019). The Spatial Composition of Alun-Alun on Java Island Today. TATALOKA, 21(2), 204-215. https://doi.org/10.14710/tataloka.21.2.204-215
  32. Koleksi Digital KITLV. (1920–1930). Universiteit Leiden, Seri PK-F-OKL 0558
  33. Kota Toea Magelang. (2024, 5 April). Kota Toea Magelang
  34. Kusno, A. (2000). Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space, and Political Cultures in Indonesia. London: Routledge
  35. Kusno, A. (2010). The Appearances of Memory: The Mnemonic Practices of Architecture and Urban Form in Indonesia. Durham: Duke University Press
  36. Lutfiah, I., Wulandari, A., & Widiantara, I. W. A. (2023). Karakteristik aktivitas pengguna ruang terbuka publik di Alun-Alun Purworejo. SARGA: Journal of Architecture and Urbanism, 17(2)
  37. Nadiantika, M. G., & Wahyono, H. (2022). Persepsi masyarakat terhadap revitalisasi Alun-Alun Kota Semarang sebagai ruang terbuka publik. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 11(2), 171–180
  38. Nas, P. J. M. (2002). The Indonesian City: Studies in Urban Development and Planning. Leiden: KITLV Press
  39. Noviana, L., Nurhadi, N., & Siregar, R. S. (2024). Komodifikasi Alun-alun Karanganyar oleh Pedagang Kaki Lima Malam Hari. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 10(1). https://doi.org/10.23887/jiis.v10i1.77641
  40. Oizumi. (1910). Koleksi Digital KITLV Universiteit Leiden, Seri 140319
  41. Panjaitan, T. W. S., Pojani, D., & Darchen, S. (2022). The Transformation of Public Space Production and Consumption in Post-Reformation Indonesian Cities. City, Culture and Society, 29, 100444. https://doi.org/10.1016/j.ccs.2022.100444
  42. Raap, O. J. (2015). Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: PT Gramedia
  43. Rahardjo, W. (2010). Transformasi Ruang Publik di Kota-Kota Jawa. Yogyakarta: Ombak
  44. Rapoport, A. (1969). House Form and Culture. Englewood Cliffs: Prentice-Hall
  45. Ramadhan, A. (2024). Perubahan Bentuk dan Fungsi Alun-Alun Bandung. Jurnal Desain dan Arsitektur, 4(2). https://doi.org/10.34010/desa.v4i2.14387
  46. Refranisa. (2020). Morfologi Pecinan Magelang. Arcade, 4(3), 225–230. https://doi.org/https://doi.org/10.31848/arcade.v4i3.466
  47. Rukayah, R. S. (2017). Kota Jawa dan Identitas Ruang Publik: Kajian Morfologi Kota di Jawa Tengah. Semarang: Universitas Diponegoro Press
  48. Santoso, J. (2008). Arsitektur-Kota Jawa: Kultur, Kosmos dan Kuasa. Jakarta: Centropolis Universitas Tarumanagara
  49. Santoso, J. (2008). Arsitektur dan Kota dalam Lintasan Sejarah Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  50. Santoso, J. (2009). Ruang Publik dan Dinamika Sosial Kota. Bandung: ITB Press
  51. Santoso, J. (2012). Makna Kosmologis dalam Tata Ruang Kota Jawa Tradisional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  52. Shaleha, P. P., & Saputri, H. (2023). Permasalahan Sosial Ruang Publik Alun-Alun Kajen. Kajen: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembangunan, 8(1), 20–31. https://doi.org/10.54687/jurnalkajenv8i01.02.1
  53. Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius
  54. Stuers, L. H. W. M. de. (1865–1876). Koleksi Foto Hindia Belanda, Seri KITLV 47A67. Leiden: Universiteit Leiden, Digital Collections
  55. Tjahajas. (2018). Dokumentasi sejarah Alun-Alun Kota Magelang [Instagram post]. Instagram
  56. Tümtürk, O., Karakiewicz, J., & de Haan, F. J. (2025). The impact of urban form on physical change: A quantitative and diachronic analysis of urban form evolution in Midtown Manhattan. Environment and Planning B: Urban Analytics and City Science, 52(5), 1035-1054
  57. Universiteit Leiden. (1866). Koleksi Foto Hindia Belanda, Seri KITLV 82946. Leiden: Universiteit Leiden, Digital Collections
  58. Utami, W. (2008). Sejarah perkembangan Kota Magelang. Jurnal Program Doktoral 23 Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan (JUTAP), Universitas Gadjah Mada
  59. Utami, W. (2009). Landscape dalam Perkembangan Kota Magelang sebagai Kota Bersejarah. Simposium Internasional Nusantara Urban Research Institute ke-4, Universitas Diponegoro
  60. Utami, W. (2010). Mengintip Masa Lalu Kota Magelang (…–1945) dari Tanah Perdikan sampai Menjadi Kota. Makalah ilmiah dalam kegiatan Remboeg Sedjarah di Alun-Alun Kota Magelang, 25 April 2010
  61. Whitehand, J. W. R., Samuels, I., & Conzen, M. (2009). Conzen, M.R.G. 1960: Alnwick, Northumberland: A Study in Town-Plan Analysis. Institute of British Geographers Publication 27. London: George Philip. Progress in Human Geography, 33, 859–864. https://doi.org/10.1177/0309132509334948

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.