MODAL SOSIAL DALAM MENUMBUHKAN DAN MENDIFUSIKAN INOVASI PERTANIAN HORTIKULTURA SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL STUDI KASUS: KABUPATEN BANDUNG DAN BANDUNG BARAT

Dewi Sawitri Tjokropandojo -  Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Ainna Aqmarini -  Institut Teknologi Bandung, Indonesia
*Dika Fajri Fiisabiilillah -  Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Received: 15 Dec 2017; Published: 15 Mar 2019.
Open Access
Abstract
Tulisan ini mengeksplorasi pengaruh modal sosial dalam menumbuhkan dan mendifusikan inovasi pertanian hortikultura sebagai basis pengembangan ekonomi lokal. Pendekatan studi yang digunakan adalah pendekatan studi kasus kualitatif, yang didukung oleh teknik analisis pencocokan pola hubungan teoritis dan pola hubungan empiris. Temuan studi ini menunjukkan bahwa modal sosial petani pada kegiatan ekonomi yang relatif lebih tinggi dibanding pada kegiatan sosial dapat menumbuhkan inovasi secara mandiri, lebih meluas dan perkembangannya lebih maju. Modal sosial petani yang relatif tinggi pada kegiatan ekonomi pun dapat mempermudah dan mempercepat proses difusi inovasi serta pendifusiannya berkembang lebih luas, tidak terbatas pada kelompok atau petani tertentu saja. Sementara itu, modal sosial masyarakat petani pada kegiatan sosial yang relatif lebih tinggi dibandingkan pada kegiatan ekonomi tidak menunjukkan adanya dorongan dalam menumbuhkan inovasi secara mandiri dan perkembangan inovasi. Karakteristik modal sosial tersebut juga tidak mempermudah  pendifusian inovasi dan proses difusi  hanya terjadi pada kelompok petani yang terbatas. Kesimpulannya adalah keberadaan Modal Sosial Petani yang tinggi pada kegiatan ekonomi merupakan kunci Keberlanjutan Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Pertanian, melalui Pertumbuhan dan Difusi Inovasi Pertanian.

Other format:

Keywords
difusi inovasi, kegiatan ekonomi, kegiatan sosial, modal sosial.

Article Metrics:

  1. Bellah, R. N., et al. (1991) Democracy Means Paying Attention, The Good Society. New York: Alfred A. Knopf Inc.
  2. Blakely, Leigh (2010) Planning Local Economic Development: Theory and Practice. Sage Publication.
  3. Carpenter, J.P, et al. 2004. Social Capital an Trust in South-east Asian Cities, Urban Studies, Vol. 41, No. 4, 853-874.
  4. Castiglione, D (2008) The Handbook of Social Capital, Oxford Universy Press.
  5. Fukuyama, F. (1995) Trust: The Social Virtues and Creation of Prosperity. New York: Free Press Paperbacks.
  6. Hartanto, M. S. (1999) Peran Etika Dalam Bisnis Yang Berbekal Modal Maya, Studio Manajemen. Institut Teknologi Bandung.
  7. Lufiandi. (1999) Kajian Pengembangan Sumber Daya Lokal Pertanian melalui Pendekatan Pemasaran Produk: Studi kasus pada Kecamatan Ciwidey dan Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Tugas Akhir Jurusan Teknik Planologi, FTSP, ITB.
  8. Putnam, R. (19930 The Properous Community: Social Capital dan Community Life. The American Prospect 13 (1), 35-42.
  9. Raka, Gede. (2003) Membangun Budaya Inovasi Untuk Tata Pemerintahan Yang Baik, Dalam Bidang Manajemen Perkotaan, Makalah Lokakarya Internasional Membangun Budaya Inovasi untuk Menuju Tata Pemerintahan yang Baik, Nusa Dua Bali, 10-13 Juni 2003.
  10. Rogers, Everett M. (1995) Diffusion of Innovation – Fifth Edition. New York: Free Press.
  11. Sedyadi, Gema Satria. (2012) Dukungan Modal Sosial Terhadap Kelembagaan Pertanian Dalam Peningkatan Posisi Tawar Pada Sistem Tata Niaga (Studi Kasus: Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang). Tugas Akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB.
  12. Serageldin, I. and Grootaert, C. (2000) Defining Social Capital: An Integrating View, 2000. In P. Dasgupta dan I. Serageldin (Ed.), Social Capital: A Multi Faceted Perspective, 40-57. Washington, DC: The World Bank.
  13. Stimsoo, R.J., et al. 2009. Regional Economic Development: Analysis and Planning Srategy.
  14. Yin, R.K. (1994) Case Study Research: Design and Methods. New Delhi: SAGE Publications.