REKONTEKSTUALISASI HASIL INTEGRASI NILAI BUDAYA DALAM PERENCANAAN KOTA YOGYAKARTA

*Dwi Sukma Bayu Wardhana -  Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Petrus Natalivan Indradjati -  Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Received: 20 Oct 2017; Published: 15 Mar 2019.
Open Access
Abstract
In 2015, UNESCO initiated the inclusion of local culture into sustainable urban planning and development. Yogyakarta has a great historical-cultural potential, where the city has been named as a special region established under Undang-Undang No. 13/2012. By referring to the UNESCO initiation and Undang-Undang No. 13/2012, Yogyakarta has the advantage to initiate the local culture into its sustainable urban planning and development. Though culture is intangible; but by taking the law enforcement and its historical-cultural potential into Yogyakarta is now eligible to develop a city planning on a cultural basis. This research is to explore the integration of Yogyakarta culture into city planning based on eight aspects of culture based spatial planning, in relation to planning guidance/regulation, empirical condition and 14 cultural values of Yogyakarta. The research has shown that 14 Yogyakarta cultural values, in accordance with 7 of the 8 principles of culture based spatial planning (except connectivity principle) and 5 out of 14 cultural values of Yogyakarta has cohesive relationship with 8 aspects of culture based spatial planning, but it is not manifested on the current planning and implementation. This research reinforces that socio-cultural basis of planning relief on three variables respectively cultural aspect, human resources, and nevertheless the cultural awareness

Other format:

Keywords
culture; integration; recontextualization; spatial planning; Yogyakarta

Article Metrics:

  1. Alam, Bachtiar. 2014a. “Globalisasi dan perubahan budaya: perspektif teori kebudayaan.” Antropologi Indonesia. http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/viewArticle/3325.
  2. Alam, Bachtiar 2014b. “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan.” Antropologi Indonesia. http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/viewArticle/3325.
  3. Al-Homoud, Mohammad. 2003. “Sustainable Urban Planning of Historical Jawa - Analysis of the Physical and Social Pattern.”
  4. Darmosugito. 1956. Sedjarah Kota Yogyakarta: dalam Kota Yogyakarta 200 tahun 7 Oktober - 7 Oktober 1956. Panitya Peringatan Kota Yogyakarta.
  5. Duxbury, Nancy, Jyoti Hosagrahar, dan Jordi Pascual. 2016. “Why Must Culture be at the Heart of Sustainable Urban Development.” United Culture and Local Goverment.
  6. Geertz, Clifford. 1973. The interpretation of cultures: selected essays. New York: Basic Books.
  7. Geertz, Clifford, dan Taufik Abdullah. 2013. Agama Jawa: abangan, santri, priyayi dalam kebudayaan Jawa. Depok, Indonesia: Komunitas Bambu.
  8. J.M Nas, Peter. 2002. “Masterpieces of Oral and Intangible Culture: Reflections on the UNESCO World Heritage List.” Current Anthropology 43 (1): 139–48. doi:10.1086/338287.
  9. J.M Nas, Peter. 2011. Cities of full symbol: a theory of urban space and symbol. Amsterdam: Leiden University Press.
  10. Landry, Charles. 2006. The art of city-making. Sterling, VA: Earthscan.
  11. Landry, Charles. 2008. The creative city: a toolkit for urban innovators. 2nd ed. New Stroud, UK : London ; Sterling, VA: Comedia ; Earthscan.
  12. Maraña, Maider. 2010. “Culture and Development.” UNESCO Extea Working Paper.
  13. Porter, Libby. 2010. Unlearning the colonial cultures of planning. Farnham, England; Burlington, VT: Ashgate Pub. Co
  14. Ricœur, Paul, dan John B. Thompson. 1981. Hermeneutics and the Human Sciences: Essays on Language, Action, and Interpretation. Cambridge [Eng.]; New York: Paris: Cambridge University Press ; Editions de la Maison des sciences de l’homme.
  15. UNESCO. 1966. “Declaration of the Principles of International Cultural.” Environmental management.
  16. Van Oers, Bert. 1998a. “The Fallacy of Detextualization.” Mind, Culture, and Activity 5 (2): 135–42. doi:10.1207/s15327884mca0502_7.
  17. Van Oers, Bert. 1998b. “From Context to Contextualizing.” Learning and Instruction 8 (6): 473–88. doi:10.1016/S0959-4752(98)00031-0.
  18. Wortham, Galvin B.D. 2008. “Mythologies of Placemaking.” https://placesjournal.org/article/mythologies-of-placemaking/.
  19. Young, Greg. 2008. Reshaping Planning with Cuture. Urban and regional planning and development series. Aldershot, England ; Burlington, VT: Ashgate.
  20. Yudoyono, Bambang. 2017. Jogja memang istimewa.
  21. Zahnd, Markus. 2008. Model baru perancangan kota yang kontekstual: kajian tentang kawasan tradisional di kota Semarang dan Yogyakarta: suatu potensi perancangan kota yang efektif. Seri strategi arsitektur 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius : Soegijapranata University Press.
  22. Kementerian Agraria Dan Tata Ruang “Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 37 Tahun 2016, Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawsan Strategis Provinsi Dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten.”
  23. Kementerian Pekerjaan Umum “Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 15 Tahun 2012, Tentang Pedoman Penyusunan Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional.”
  24. Kementerian Pekerjaan Umum “Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 17 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan Tata Ruang Kota.”
  25. Pemerintah Kota Yogyakarta. 2017. “Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta 2017.”
  26. Pemerintah Kota Yogyakarta. 2007 “Peraturan Daerah Kota Yogyakarta, No. 1 Tahun 2007, Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.”
  27. Pemerintah Kota Yogyakarta “Peraturan Daerah Kota Yogyakarta, No. 1 Tahun 2015 Tentang Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kota Yogyakarta Tahun 2015-2035.”
  28. Pemerintah Kota Yogyakarta “Peraturan Daerah Kota Yogyakarta, No. 2 Tahun 2010, Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta Tahun 2010-2029.”
  29. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Istimewa, Daerah Istimewa Yogyakarta, No. 1 Tahun 2013, Tentang Kewenangan Dalam Urusan Kewenangan Daerah Istimewa Yogyakarta.”
  30. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Istimewa, Daerah Istimewa Yogyakarta, No. 3 Tahun 2015, Tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.”
  31. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Istimewa, Daerah Istimewa Yogyakarta, No. 4 Tahu 2011, Tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta.”
  32. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Istimewa, Daerah Istimewa Yogyakarta Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2010-2029.”
  33. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Istimewa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 1 Tahun 2013, Tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah Istimewa.”
  34. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta “Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 2 Tahun 2010, Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-2029.”
  35. Pemerintah Republik Indonesia. 2015. BUKU I RPJMN 2015-109 Agenda Pembangunan Nasional. Vol. 1.
  36. Pemerintah Republik Indonesia “Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Tata Ruang.”
  37. Pemerintah Republik Indonesia “Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 Tentang Kawasan Strategis Nasional.”
  38. Pemerintah Republik Indonesia “Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.”
  39. Pemerintah Republik Indonesia “Undang-Undang No. 13 Tahun 2012 Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.”
  40. Pemerintah Republik Indonesia “Undang-Undang No, 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.”