Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Kandungan Boraks Pada Bakso Menggunakan Kertas Turmerik, FT – IR Spektrometer dan Spektrofotometer Uv -Vis

*Dedy Suseno -  Halal Research Center, Universitas YARSI Jl. Letjend Soeprapto Kav 13 Cempaka Putih, Jakarta Pusat Telp/fax :(021) 4206674/ (021) 4243171 Email : dedy.suseno@yarsi.ac.id, Indonesia
Received: 7 Jan 2019; Revised: 11 Mar 2019; Accepted: 10 Apr 2019; Published: 8 Jul 2019; Available online: 10 Jun 2019.
Open Access Copyright 2019 Indonesia Journal of Halal

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 783 351
Abstract

Bakso merupakan salah satu makanan yang banyak dikonsumsi karena penyajiannya yang praktis, memiliki harga yang terjangkau dan banyak tersedia diberbagai tempat seperti pasar tradisional, pasar swalayan dan masih banyak lagi. Banyaknya masyarakat yang mengonsumsi bakso membuat para pedagang berlomba-lomba membuat bakso yang enak, namun dengan alasan kualitas dan awet ada pedagang yang menggunakan boraks sebagai bahan tambahan pangan. Boraks merupakan senyawa kimia yang mengandung unsur Boron (B) dan memiliki nama dagang bleng, pijer atau gendar. Boraks biasa digunakan sebagai bahan solder, pembuatan gelas, bahan pembersih/pelicin porselin, pengawet kayu dan antiseptik kayu. Penelitian terhadap bakso dikota Medan menunjukkan bahwa 8 dari 10 sampel bakso yang diperiksa ternyata mengandung boraks dengan konsentrasi 0,08% - 0,29%. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 033 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, boraks merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi adanya boraks pada bakso sapi secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil analisis boraks menggunakan kertas turmerik menunjukkan bahwa perubahan warna pada kertas turmerik hanya terjadi pada kontrol positif saja sedangkan analisis boraks menggunakan FTIR Spektrometer semua sampel dan kontrol positif tidak menunjukkan adanya spektrum sidik jari pada bilangan gelombang 1500 sampai 1000 cm-1. Hasil analisis boraks menggunakan spektrofotometer Uv-Vis menunjukkan bahwa 9 dari 12 positif mengandung boraks dengan konsentrasi terbesar pada sampel B1 sebesar 2414.375 µg/mL.

Article Metrics:

  1. Acarali NB. 2015. Characterization and Exergy Analysis of Triphenyl Borate. J. Chem.sos.Pak. 37 (4) : 696 – 703).
  2. Aminah dan Himawan. 2009. Bahan-Bahan Berbahaya dalam Kehidupan. Salamadani : Bandung
  3. BPOM . 2014. Waspada Boraks dan Formalin Bahan Berbahaya Pada Pangan. Jakarta.
  4. Denny.R.C. 1994. Vogel-Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. ed.IV. Jakarta: EGC, 809.
  5. Depkes R.I, dan Dirjen POM. 1988. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988 Tentang Bahan Tambahan Makanan. Jakarta
  6. Devi SA, Philip D, Aruldhas G. 1994. Infrared, Polarized Raman, and SERS Spectra of Borax. Journal of SOLID STATE CHEMISTRY. 113 : 157 – 162.
  7. Ersan A, Kipcak AS, Yildirim M, Erayfaz AM, Derun EM, Tugrul N, Piskin S. 2015. Determination of the Zinc Oxide and Boric Acid Optimum Molar Ratio on The Ultrasonic Synthesis of Zinc Borates. Journal of Chemical and Molecular Engineering. 9 (12) : 1444 - 1447
  8. Fuad NR. 2014. Identifikasi Kandungan Boraks Pada Tahu Pasar Tradisional di Daerah Ciputat. [skripsi]. UIN Syarif Hidayyatullah Jakarta: Jakarta
  9. Halim, Azhar A. 2012. Boron Removal From Aquaous Solution Using Curcumin-Aided Electrocoagulation. Middle-East Journal of Scietific Research. 11(5) : 583-588.
  10. Hartati FK. 2017. Analisis Boraks Secara Cepat, Murah dan Mudah Pada Kerupuk. Jurnal Teknologi Proses dan Inovasi Industri. 2 (1) : 33 – 37.
  11. Holler. 2002. Official Method of Analysisof the Association of official Analytical .Chemist International, 17thed.AOAC Inc; USA.
  12. Kresnadipayana D, Lestari D. 2017. Penentuan kadar boraks pada kurma (Phoenix dactylifera) dengan metode Spektrofotometer UV – Vis. Jurnal Wiyata . 4(1) : 23 – 30.
  13. Mule Team. 2018. Borax Decahydrate. https://www.borax.com/BoraxCorp/media/Borax-Main/Resources/Data-Sheets/borax-decahydrate.pdf. [21 Mei 2019].
  14. Panjaitan L. 2010. Pemeriksaan dan Penetapan Kadar Boraks dalam Bakso di Kotamadya Medan. http://Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17273/ 7/Cover.pdf [13 Februari 2018].
  15. Rumanta M, Ratnaningsih A, Iryani K. 2014. Analisis Kandungan Boraks Pada Jajanan Pasar di Wilayah Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan. Laporan penelitian Fundamental UT Lanjut.
  16. Rusli R. 2009. Penetapan Boraks Pada Mie Basah Yang Beredar Di Pasar Ciputat Dengan Metode Spektrofotometer UV –VIS Menggunakan Pereaksi Kurkumin. [skripsi]. UIN Syarif Hidayyatullah Jakarta: Jakarta
  17. Sa’adah, L. 2006. Identifikasi Boraks dan Asam Borat pada Beberapa Jenis Mie yang Diperoleh dari Pasar Depok. [Skripsi]. Universitas Indonesia : Depok.
  18. See AS, Salleh AB, Bakar FA, Yusof NA, Abdulamir AS, Heng LY. (2010) Risk and health effect of boric acid. Am. J. Appl. Sci. 7(5):620-627.
  19. Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Terjemahan: Setiono dan A. Hadyana Pudjatmaka. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka
  20. Widayat D. 2011. Uji Kandungan Boraks Pada Bakso . [skipsi]. Universitas Jember : Jember
  21. Widyaningsih TD, Murtini ES. 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada Produk Pangan. Jakarta: Trubus Agrisarana
  22. Zeng L M, Wang H Y, Guo Y L. 2010. Fast Quantitative Analysis of Boric Acic by Gas Chromatography Mass Spectrometry Coupled with a Simple and Selective Derivatization Reaction Using Triethanolamine. J Am Soc Mass Spectrom. 21: 482 – 485.