KAJIAN PERKEMBANGAN KAWASAN AKIBAT KEBERADAAN UMKM BERBASIS RUMAH (HBE) PENGOLAH PANGAN TRADISIONAL GETUK ‘KETHEK’ SATU RASA, KOTA SALATIGA

Januarta Dwi Kusmayanti dan Wido Prananing Tyas

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang

Issue Volume 4 No. 2 (2016)

DOI http://dx.doi.org/10.14710/jpk.4.2.160-168

Copyright (c) 2017 Jurnal Pengembangan Kota

Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Abstrak

Pada sentra olahan singkong di Kelurahan Ledok, terjadi pertumbuhan HBE baru yang terinspirasi oleh salah satu usaha rumah tangga, yaitu Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa. Keberadaan usaha–usaha baru tersebut berdampak terhadap perkembangan kawasan yang dilihat dari perubahan aktivitas perekonomian masyarakat, perubahan fisik kawasan, penyerapan tenaga kerja yang lebih besar, dan peningkatan pendapatan pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberadaan UMKM berbasis rumah (HBE) pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa terhadap perkembangan kawasan di sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan, yaitu mix method . Temuan studi yang diperoleh adalah terdapat perubahan fungsi ruang pada hunian yang dijadikan sebagai tempat usaha baik sebelum dan sesudahnya. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, usaha–usaha tersebut berkontribusi sebesar 3,71% bagi Kelurahan Ledok. Dalam aspek ekonomi terjadi peningkatan pendapatan sebanyak 89% pelaku usaha memiliki pendapatan di atas UMK Kota Salatiga, yaitu Rp. 1.450.000. Dalam proses rantai nilai pada usaha-usaha yang ada terdapat kesamaan hubungan pada proses pemasaran distribusi produk.

Kata Kunci: UMKM berbasis rumah (HBE); Perubahan kawasan; Rantai nilai


[Title: The Study of Area Development Caused by Home Based Enterprise (HBE) of Traditional Food Processing of Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa, Salatiga City]. At cassava processing center in Ledok Sub district have a phenomena of increasing HBE which inspired by household enterprise Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa. Existing of new enterprises making impacts to regional development which reflected by changes of economic activities, phyisical area, employment and increasing of income. This research has a focus to knowing impacts of traditional cassava processing center HBE Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa to developing its area. Methodology of this reasearch is using mix method. The results of this research are transformation of used space in their house as a work place. In emplyomenting, HBE have a contribution 3,71% to Ledok Sub district. The result of economic aspect, 89% income of interprises above regional minimum wage of Salatiga which is Rp 1.450.000. The result of value chains showing if enterprises in Ledok sub district have a common relation in distribution products.

Keyword: Home Based Enterprises; Area Development; Value Chains

table of content

1. PENDAHULUAN

Salah satu jenis UMKM yang saat ini mulai banyak dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat adalah UMKM berbasis rumah atau biasa disebut dengan home based enterprise (HBE). Beberapa peneliti menyebutkan bahwa hunian atau rumah dapat dimanfaatkan sebagai tempat berteduh (shelter) ataupun sebagai unit akomodasi dan kunci utama untuk reproduksi sosial (Olatubara & Fatoye, 1998). HBE merupakan bagian dari sektor informal yang memberikan banyak lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh pertumbuhan tenaga kerja dan menggantikan peran sektor formal untuk menyediakan barang dan jasa (Gough, Tipple, & Napier, 2003). Selain itu HBE merupakan unit fungsional dan organisasional suatu produksi dan konsumsi yang tidak hanya mewadahi bisnis skala kecil, namun juga mewadahi kegiatan keluarga dalam tempat tinggal (Strassman, 1987).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Lawanson (2012) menemukan bahwa 70% dari 17 juta penduduk Lagos metropolis, Nigeria adalah penduduk miskin dan hanya dapat bertahan dari HBE. HBE mempunyai dampak positif dalam peningkatan pendapatan rumah tangga dan kesejahteraan masyarakat (Lawanson & Olanrewaju, 2012). Penelitian mengenai HBE dan dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat pelaku HBE maupun non HBE juga dilakukan di Ibadan Utara, Nigeria. Rumah adalah aset ekonomi produktif dan dianggap aset penting sebagian besar pelaku usaha. Keberadaan HBE memainkan peran sebagai kunci dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan, termasuk pengangguran dan pengentasan kemiskinan (Olajoke, Abolade, & David, 2013).

Dalam perkembangannya, HBE pada sebuah kawasan terus mengalami pertumbuhan. Hal ini dapat dilihat melalui tumbuhnya usaha – usaha baru dalam kurun waktu tertentu baik secara fisik maupun pengaruhnya terhadap ekonomi masyarakat. Teori figure ground digunakan untuk melihat perkembangan bangunan pada usaha – usaha baru tersebut secara fisik. Teori ini menjelaskan tentang pola hubungan perkotaan dengan hubungan antara bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space) (Zahnd, 1999).

Perkembangan HBE pengolah pangan tradisional tersebut juga dilihat melalui teori klaster. Menurut Porter dalam Nugroho, klaster adalah kelompok perusahaan yang saling berhubungan, berdekatan secara geografis dengan institusi – institusi yang terkait dalam suatu bidang khusus karena kebersamaan, kerja sama dan saling melengkapi (Nugroho, 2011). Pertumbuhan klaster terbagi ke dalam 4 tingkatan, yaitu sentra, klaster pemula, klaster dinamis, klaster maju (Munir & Fitanto, 2005).

Usaha rumah tangga atau HBE memberikan kesempatan pekerjaan yang lebih besar bagi rumah tangga berpenghasilan rendah terutama wanita. Kesempatan pekerjaan yang dimaksud memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh pekerjaan dan mendapatkan penghasilan (Tipple, 2004). Di Kota Salatiga, perkembangan HBE menunjukkan hasil yang positif, artinya sektor ini terus berkembang dan meningkat di tengah semakin minimnya lapangan usaha formal yang ada. Dalam perkembangannya, kondisi yang terjadi di sekitar UMKM berbasis rumah (HBE) pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa adalah tumbuhnya usaha – usaha baru pengolah pangan tradional. Menurut Pak Joko, ketua RW II, jumlah usaha baru olahan singkong saat ini mencapai 12 unit yang tersebar di RW II dan RW XI.

Keberadaan HBE Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa selain sebagai penggagas berdirinya usaha baru di sekitarnya secara tidak langsung juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi pelaku usaha yang ada. Sebagian besar tenaga kerja yang terserap berasal dari keluarga masing – masing dengan jumlah kurang lebih 3 – 4 orang. Sejauh ini perkembangan usaha Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa tidak terlepas dari peran tiap – tiap mata rantai dalam proses rantai nilai yang terjadi. Rantai nilai menggambarkan serangkaian aktivitas dalam membuat sebuah produk atau jasa mulai dari konsepsi, melalui tahap – tahap produksi (termasuk kombinasi dari aliran fisik komoditas dan input dari berbagai produsen), pemasaran kepada konsumen dan daur ulangnya. (Kaplinsky & Morris, 2001) Dapat disimpulkan bahwa rantai nilai merupakan serangkaian aktivitas produksi mulai dari pemasok bahan baku hingga produk sampai ke tangan konsumen. Proses rantai nilai tersebut juga terjadi pada usaha – usaha lainnya di kawasan sekitar pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa.

Dalam hal ini terjadi timbal balik yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kerjasama yang terjadi tidak hanya pada usaha Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa namun berkembang dalam usaha lainnya. Dengan demikian, usaha rumah tangga dengan skala yang jauh lebih kecil dapat semakin berkembang.

Oleh karena itu perlu diidentifikasi mengenai “Bagaimana Perkembangan Kawasan yang Terjadi Akibat Keberadaan UMKM Berbasis Rumah (HBE) Pengolah Pangan Tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa di Kota Salatiga?” sehingga nantinya dapat memberikan arahan bagi pembangunan kawasan tersebut.

table of content

2. METODE PENELITIAN

Strategi pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatanmix method atau metode pendekatan campuran jenis sequential explanatory strategy. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui data primer dan data sekunder. Data primer berupa kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan. Sedangkan data sekunder melalui kajian literatur dan telaah dokumen.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu metode yang meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Nazir, 2003). Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 74 KK untuk kuesioner dan 12 sampel untuk wawancara. Responden yang diwawancarai merupakan pelaku usaha yang berada di kawasan sekitar HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa yang terdiri dari usaha rumah tangga Pelem Sogo, Singkong Keju D-9, Getuk Kimpul P2, Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa, Bakoel Telo Barokah, O-sama, Cassava, Getuk Pak Bowo, Ceriping Singkong Presto Pak Nur, pemilik kios oleh-oleh 1, kios ‘Ruri’, dan kios oleh – oleh 3.

table of content

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Spasial Pertumbuhan Usaha – Usaha Baru di Sekitar UMKM Berbasis Rumah (HBE) Pengolah Pangan Tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa

Perkembangan HBE pengolah pangan tradisional berbahan baku singkong terjadi setelah tahun 2006, yaitu dimulai pada tahun 2007. Usaha rumah tangga yang pertama muncul adalah HBE Ceriping Singkong Presto Pak Nur dan diikuti oleh HBE Cassava. Kemudian pada tahun 2009 muncul HBE baru yaitu Singkong Keju D-9 dan tahun 2010 berdiri pula usaha rumah tangga Pelem Sogo, selebihnya baru bermunculan pada tahun 2014 dan 2015. Perkembangan ini terjadi pada mulanya dikarenakan oleh keberhasilan HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi pemilik usaha, kemudian hal inilah yang memicu masyarakat di sekitarnya untuk mendirikan usaha sejenis. Seiring berkembangnya usaha – usaha baru yang bermunculan hingga tahun 2010 dan mulai berhasil pada tahun 2012 – 2014 berdampak pada kondisi lingkungan di kawasan tersebut yang padat dan ramai pengunjung, sehingga mendorong masyarakat sekitar untuk menjalankan usaha yang sama.

Kawasan di sekitar pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa pada mulanya merupakan kawasan permukiman padat. Pada tahun 2006 merupakan awal mula tumbuhnya usaha – usaha rumah tangga sejenis yang saat ini berkembang pada kawasan tersebut. Pada tahun 2006, hanya terdapat sebuah HBE yaitu Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa.

Berikutnya pada tahun 2010, jumlah HBE jenis industri pengolahan pangan tradisional mulai berkembang sebanyak 5 unit yang terdiri dari Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa, Ceriping Singkong Presto Pak Nur yang berdiri tahun 2007, Cassava berdiri tahun 2007, dan Singkong Keju D-9 yang mulai berdiri tahun 2009. Perkembangan HBE pengolah pangan tradisional baru ini masih berada dalam satu kawasan dengan Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa yang berlokasi saling berdekatan. Hal ini dilakukan oleh pelaku usaha baru dengan memanfaatkan faktor kedekatan lokasi dengan pusat keramaian, selain itu letak usaha – usaha baru ini secara tidak langsung dilewati oleh pengunjung yang datang ke Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa, sehingga faktor keuntungan letak yang strategis juga mendorong tumbuhnya usaha – usaha ini

Perubahan yang sangat pesat terjadi pada tahun 2015 hingga saat ini (tahun 2016) dengan jumlah HBE pengolah pangan tradisional mencapai 14 unit dengan jenis tipologi yang berbeda, yaitu terdiri dari HBE jenis perdagangan seperti kios dan outlet, serta HBE jenis industri pengolahan. Hal ini berarti bahwa dalam kurun waktu yang cukup singkat, yaitu 10 tahun terjadi perubahan kawasan yang pesat. Usaha – usaha baru bermunculan dan tumbuh pada kawasan ini mengakibatkan kondisi permukiman yang awalnya padat penduduk berubah menjadi ramai akibat aktivitas ekonomi yang terjadi. Selain itu, ruas jalan yang semula lancar berubah menjadi sedikit terganggu akibat aktivitas kendaraan yang lalu – lalang terutama pada koridor Jalan Argotunggal sampai dengan Jalan Argowiyoto. Koridor jalan ini merupakan satu – satunya akses yang harus dilewati untuk mengunjungi sentra HBE pengolah pangan tradisional hasil olahan singkong.

Berikut ini merupakan perkembangan kawasan yang terjadi secara periodik dari tahun 2006, tahun 2010, dan tahun 2015 sampai sekarang berdasarkan pertumbuhan usaha yang terjadi pada tahun – tahun tersebut.


Gambar 1. Perkembangan Kawasan Dilihat dari Pertumbuhan HBE Tahun 2006, Tahun 2010, dan Tahun 2016. (Sumber: Hasil Analisis, 2016)

Perubahan yang sangat pesat terjadi pada tahun 2015 hingga saat ini (tahun 2016) dengan jumlah HBE pengolah pangan tradisional mencapai 14 unit dengan jenis tipologi yang berbeda, yaitu terdiri dari HBE jenis perdagangan seperti kios dan outlet, serta HBE jenis industri pengolahan. Persebaran munculnya HBE baru tersebut mayoritas berada di RW II dan sebagian RW XI. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan sebuah usaha sebagai industri kunci mampu mendorong munculnya usaha – usaha baru yang kemudian mempengaruhi perkembangan fisik maupun ekonomi dalam sebuah kawasan. Selanjutnya usaha – usaha tersebut beraglomerasi dan membentuk sebuah sentra.

Perubahan kawasan yang terjadi selain mempengaruhi lingkungan sekitarnya, juga berpengaruh terhadap perubahan fungsi ruang hunian pada masing – masing usaha rumah tangga baik sebelum maupun sesudah melakukan usaha. Sebagian perubahan fisik tersebut ditandai dengan penggunaan teras sebagai tempat mendistribusikan barang/produknya dan ruang tamu/dapur sebagai tempat produksi. Rata – rata luas ruang usaha yang digunakan berkisar antara 10 – 15 % dari luas rumah seluruhnya, seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2 dan gambar 3 berikut:


Gambar 2. Usaha Perdagangan yang dibuat di Teras Rumah. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2016)

Gambar 3. Proses Produksi pada Bagian Ruang Tamu. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2016)

Analisis Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Pada Usaha – Usaha Pengolah Pangan Tradisional di Sekitar UMKM Berbasis Rumah (HBE) Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa. Gambar 4 menunjukkan Kontribusi langsung dari adanya kegiatan usaha rumah tangga terhadap perekonomian Kota Salatiga khususnya Kelurahan Ledok dapat dilihat dari kemampuan unit usaha tersebut dalam menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 188 tenaga kerja yang berasal dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Sebanyak 67% tenaga kerja pada usaha rumah tangga di Kawasan HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa berasal dari keluarga pemilik usaha itu sendiri, sedangkan selebihnya yaitu 33% berasal dari masyarakat sekitar.

Gambar 4. Banyaknya Tenaga Kerja Menurut Asalnya. (Sumber: Hasil Analisis, 2016)

Kegiatan usaha rumah tangga pengolah pangan tradisonal telah berkontribusi dalam menyerap tenaga kerja sebesar 3,71% bagi Kelurahan Ledok. Dengan demikian, penciptaan lapangan kerja dengan adanya usaha rumah tangga di Kelurahan Ledok dapat memberikan nilai tambah dan peningkatan perekonomian pelaku usaha. Rata – rata penyerapan tenaga kerja untuk usaha yang baru dirintis hanya mampu menyerap sebayak 3 – 4 orang.

Analisis Perkembangan Struktur Pendapatan Penghuni Usaha di Kawasan Sekitar UMKM Berbasis Rumah (HBE) Pengolah Pangan Tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa. Peningkatan pendapatan pelaku usaha dapat dilihat dari perubahan jumlah pendapatan yang diperoleh sebelum dan setelah menjalankan usaha rumah tangga. Peningkatan pendapatan yang terjadi tidak secara langsung, artinya tidak diperoleh dalam waktu singkat melainkan perlu adanya proses yang cukup panjang, sekitar 2-4 tahun dalam merintis usaha tersebut. Sebagian besar usaha rumah tangga yang ada di sekitar HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa mulai berkembang paling tidak 1 atau 2 tahun dihitung dari berdirinya usaha tersebut. Secara umum, pendapatan yang diperoleh pelaku usaha setelah usahanya mulai berkembang dapat mencapai nilai di atas Upah Minimum Kota (UMK) di Kota Salatiga, yaitu Rp. 1.450.000,00.

Gambar 5. Tingkat Pendapatan Pelaku Usaha Rumah Tangga Sebelum dan Sesudah Menjalankan Usaha. (Sumber: Hasil Analisis, 2016)

Gambar 5 tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang menjalankan usaha rumah tangga memperoleh peningkatan pendapatan yang cukup signifikan hampir 89% dari total keseluruhan pelaku usaha. Rata – rata pendapatan yang diperoleh adalah di atas UMK Kota Salatiga atau > Rp. 4.450.000,00. Hal ini berarti bahwa tumbuhnya usaha – usaha baru tersebut memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian sekitarnya. Kondisi ini secara tidak langsung tidak terlepas dari adanya HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa yang merupakan salah satu faktor pendorong masyarakat untuk melakukan usaha.

Analisis Keterkaitan Antara UMKM Berbasis Rumah (HBE) Pengolah Pangan Tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa dengan Pertumbuhan Usaha – Usaha Baru di Sekitarnya Berdasarkan Rantai Nilai (Value Chain). Dalam perkembangan kawasan yang terjadi di sentra olahan singkong Kawasan Ngaglik tentunya tidak terlepas dari peran masing – masing usaha rumah tangga khususnya industri pengolahan singkong dan kios – kios pemasaran produk maupun outlet yang ada. Berdasarkan hasil analisis rantai nilai yang telah dilakukan sebelumnya, keterkaitan antar usaha terletak hanya pada proses pemasaran kepada konsumen, sedangkan untuk pemasok bahan baku maupun pemasok produk masing – masing berdiri sendiri dan tidak berhubungan. Keterkaitan antar usaha tersebut dapat dilihat dari proses pemasaran pada rantai nilai yang terjadi, dalam hal ini adalah UMKM berbasis rumah (HBE) pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa dengan usaha – usaha baru yang tumbuh. Hubungan yang terjadi yaitu kerjasama pemasaran produk yang dihasilkan oleh masing – masing usaha dengan cara dititipkan ke outlet – outlet besar milik usaha yang lebih berkembang dan kios – kios di sekitar kawasan tersebut.

Jika dilihat dari perkembangan kawasan yang terjadi saat ini dapat memungkinkan terbentuknya sebuah klaster pada kawasan tersebut. Kawasan HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa ini sudah mulai bergerak dari sentra menuju ke klaster pemula. Kawasan industri pengolah pangan tradisional Kelurahan Ledok sudah memiliki variasi kegiatan seperti mengolah singkong dan jenis umbi – umbian menjadi getuk, ceriping singkong, singkong keju, timus, getuk kimpul, dan lainnya. Kerjasama antar kegiatan tersebut juga sudah mulai terlihat dengan adanya usaha – usaha kecil yang menitipkan produknya ke usaha yang lebih besar. Tahapan yang terjadi merupakan tahap pembentukan dan inisiatif (embrio) yang didominasi oleh berbagai jenis HBE dengan produk olahan singkong yang beragam dan masih menggunakan sumberdaya lokal baik bahan baku maupun tenaga kerjanya.

Pada penelitian ini, menunjukkan bahwa adanya HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa sebagai usaha yang pertama kali berdiri di sentra olahan singkong Kawasan Ngaglik secara tidak langsung berdampak terhadap perkembangan kawasan sekitarnya. Usaha rumah tangga atau HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa berperan sebagai penginspirasi atau pendorong tumbuhnya usaha – usaha baru. Dalam kawasan tersebut, HBE yang berkembang saat ini berjumlah 12 unit yang terdiri dari jenis industri pengolahan dan jenis perdagangan.

Tumbuhnya HBE baru tersebut memicu adanya kompetisi dalam kegiatan usaha yang ada, namun di sisi lain juga mendorong adanya kerjasama antar usaha terutama dari sisi pemasaran produk. Dari pertumbuhan usaha – usaha baru ini kemudian berpengaruh terhadap perubahan penggunaan ruang rumah oleh para pelaku usaha, adanya penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan (lihat gambar 6).



Perubahan penggunaan ruang rumah ditandai dengan adanya perubahan pada bagian ruang tamu dan dapur sebagai tempat produksi serta bagian teras sebagai tempat untuk mendistribusikan produk masing – masing usaha rumah tangga. Perubahan ini hampir terjadi pada seluruh hunian pelaku usaha rumah tangga di kawasan tersebut. Luas ruang yang digunakan ± 10-15% dari total luas keseluruhan. Berikutnya dalam penyerapan tenaga kerja oleh usaha – usaha rumah tangga baru yang muncul akibat terinspirasi oleh HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa ini berkontribusi sebesar 3,71% terhadap penyerapan tenaga kerja di Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo. Jumlah tersebut tergolong cukup besar untuk ukuran usaha rumah tangga dengan skala kecil sampai menengah. Rata – rata penyerapan kerja yang ada adalah sebanyak 3-4 orang per usaha rumah tangga.

Jika dari pengaruh lainnya, yaitu peningkatan pendapatan, pelaku usaha rumah tangga mengalami peningkatan pendapatan yang cukup tinggi setelah menjalankan usahanya paling tidak 2-4 tahun. Peningkatan pendapatan yang dialami dapat mencapai 50%, dari yang semula di bawah rata – rata UMK Kota Salatiga yaitu kurang dari Rp. 1.450.000,00 saat ini meningkat hingga di atas Rp. 4.450.000,00 bahkan mencapai puluhan juta rupiah.

Jika dilihat dari perkembangan kawasan yang terjadi saat ini dapat memungkinkan terbentuknya sebuah klaster pada kawasan tersebut. Kawasan HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa ini sudah mulai bergerak dari sentra menuju ke klaster pemula. Kawasan industri pengolah pangan tradisional Kelurahan Ledok sudah memiliki variasi kegiatan seperti mengolah singkong dan jenis umbi – umbian menjadi getuk, ceriping singkong, singkong keju, timus, getuk kimpul, dan lainnya. Kerjasama antar kegiatan tersebut juga sudah mulai terlihat dengan adanya usaha – usaha kecil yang menitipkan produknya ke usaha yang lebih besar. Tahapan yang terjadi merupakan tahap pembentukan dan inisiatif (embrio) yang didominasi oleh berbagai jenis HBE dengan produk olahan singkong yang beragam dan masih menggunakan sumberdaya lokal baik bahan baku maupun tenaga kerjanya.

table of content

4. KESIMPULAN

Keberadaan HBE pengolah pangan tradisional Getuk ‘Kethek’ Satu Rasa sebagai usaha yang pertama kali berdiri di sentra olahan singkong Kawasan Ngaglik secara tidak langsung berdampak terhadap perkembangan kawasan sekitarnya. Perkembangan kawasan tersebut ditunjukkan dengan adanya beberapa perubahan fisik bangunan pada kawasan, penyerapan tenaga kerja yang lebih besar, peningkatan pendapatan masyarakat terutama pelaku usaha, dan hubungan rantai nilai dalam kegiatan usaha. Perubahan fisik yang terjadi pada bagian teras rumah yang dijadikan sebagai tempat mendistribusikan produknya, sedangkan bagian dapur dan ruang tamu sebagai tempat produksi. Rata – rata perubahan yang terjadi ± 10 – 15% dari total luas rumah keseluruhan. Dalam penyerapan tenaga kerja, keberadaan usaha – usaha rumah tangga ini mampu berkontribusi sebesar 3,71% bagi Kelurahan Ledok. Sebanyak 67% tenaga kerja dari keluarga pemilik usaha itu sendiri, sedangkan 33% berasal dari masyarakat sekitar. Dalam aspek ekonomi, terjadi peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha sebanyak 89%yang memiliki pendapatan di atas UMK Kota Salatiga Rp. 1.450.000,00 atau mencapai di atas Rp. 4.450.000,00. Sedangkan, dalam proses rantai nilai pada usaha-usaha yang ada terdapat kesamaan hubungan pada proses pemasaran distribusi produk.

Rekomendasi yang diberikan bagi pemerintah, yaitu perlu adanya penataan kawasan untuk mengontrol perkembangan usaha kedepannya dengan memperhatikan persebaran pertumbuhan usaha rumah tangga yang ada melalui pembentukan sentra olahan pangan tradisional dan sebagai acuan dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Bagi pelaku usaha, perlu adanya kerjasama antar usaha untuk meminimalkan terjadinya persaingan atau kompetisi antar usaha. Rekomendasi untuk studi lanjut, yaitu perlu dilakukannya kajian mendalam mengenai pengaruh perkembangan usaha pada kawasan tersebut bagi masyarakat secara luas dan diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan untuk melakukan studi lanjut mengenai proses pengembangan klaster khususnya dalam kasus UMKM berbasis rumah (HBE).

table of content

5. DAFTAR PUSTAKA

Gough, K. V., Tipple, a. G., & Napier, M. (2003). Making a Living in African Cities: The Role of Home-based Enterprises in Accra and Pretoria. International Planning Studies, 8(4), 253–277. http://doi.org/10.1080/1356347032000153115

Kaplinsky, R., & Morris, M. (2001). A Handbook for Value Chain Research.

Lawanson, T., & Olanrewaju, D. (2012). The Home as Workplace: Investigating Home Based Enterprises in Low Income Settlements of the Lagos Metropolis.Ethiopian Journal of Environmental Studies and Management, 5(4), 397–407. http://doi.org/10.4314/ejesm.v5i4.9

Munir, R., & Fitanto, B. (2005). Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif: Masalah Kebijakan dan Panduan Pelaksanaan Kegiatan, Jakarta. Jakarta: Local Governance Supprot Program (LGSP).

Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.

Nugroho, B. P. (2011). Paduan Pengembangan Klaster Industri. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi.

Olajoke, A. F., Abolade, & David, O. (2013). Impacts of Home Based Enterprises on the quality of Life of Operators in Ibadan North Local Government , Nigeria, 2(7), 1–7.

Olatubara, C. ., & Fatoye, E. . (1998). Residential Satisfaction in Public Housing Estates in Lagos State, Nigeria. Journal of Nigeria Institute of Town Planner, 11, 43–55.

Strassman, W. P. (1987). Home - Based Enterprises in Cities of Developing Countries. Department of Economics, Michigan State University.

Tipple, G. (2004). Settlement upgrading and home- based enterprises : discussions from empirical data, 21(5), 371–379. http://doi.org/10.1016/j.cities.2004.07.006

Zahnd, M. (1999). Perancangan Kota Secara Terpadu. Yogyakarta: Kanisius.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Jurnal Pengembangan Kota

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.