Banditry in Semarang, 1950-1958

DOI: https://doi.org/10.14710/ihis.v1i1.1239

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 04-06-2017
Published: 05-06-2017
Section: Articles
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author
This article discusses about banditry that occurred in Semarang during the period of 1950-1958 with the problem focus on the causes of the banditry, types of banditry, and mitigation. Through the historical method, this article reconstructs those problems by using the approach of social reality of crime concept. In result, the banditry happened in the aftermath of the independence war, occurred due to economic difficulties, the reorganization and rationalization program, and the circulation of guns that was uncontrolled.

Keywords

Semarang, Banditry, Social reality of crime.

  1. Joseph Army Sadhyoko 
    Master Program of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia
  2. Agustinus Supriyono 
    Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia
  3. Dhanang Respati Puguh 
    Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia
  1. Abdullah, Taufik. Bab I Pengantar ke Sejarah sebagai Disiplin Ilmu, paper presented at Seminar Nasional, Pontianak, 18-22 November 2013.
  2. Budi, Langgeng Sulistyo, 1997/1998. Permasalahan Sosial Perkotaan pada Periode Revolusi: Kriminalitas di Yogyakarta 1947-1948, Lembaran Sejarah, Vol. 1, No. 2.
  3. Djamhari, Saleh (2012). A. Kegelisahan Pascaperang, in Abdullah, Taufik and A. B. Lapian (ed.) Indonesia dalam Arus Sejarah: Pascarevolusi. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve and Ministry of Education and Culture of Indonesia.
  4. Fauzi, M. (2005). Lain di front, lain pula di kota: Jagoan dan Bajingan di Jakarta Tahun 1950-an, in Colombijn, F. (ed.) Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
  5. Gove, Philip Babcock (1976). Websters Third New International Dictionary. Massachusetts: G.& C. Merriam Co., in Suhartono (1995). Bandit-Bandit Pedesaan: Studi Historis 1850-1942 di Jawa. Yogyakarta: Aditya Media.
  6. Ibrahim, Julianto (2004). Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta. Wonogiri: Bina Citra Pustaka.
  7. Kuntowijoyo (2005). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
  8. Lucas, Anton E. (1989). Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi, translated by Pustaka Utama Grafiti. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  9. Notosusanto, Nugroho (1964). Hakekat Sejarah dan Metode Sejarah. Jakarta: Mega Book Store dan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata.
  10. Poeponegoro, Marwati Djoened and Nugroho Notosusanto (2010). Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (± 1942-1998). Jakarta: Balai Pustaka.
  11. Purwanto, B. (2005). Kekerasan dan Kriminalitas di Kota pada Saat Transisi: Kotagede, Yogyakarta pada Akhir Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan, in Colombijn, F. (ed.) Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
  12. Ricklefs, M. C. (1992). Sejarah Indonesia Modern, translated by Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  13. Sudarsono (1999). Kamus Hukum. Jakarta: Rineka Cipta.
  14. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1999). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
  15. “2500 Anak-Anak Tentara Pelajar akan Kembali ke Masyarakat”, Suara Merdeka, 21 April 1950.
  16. “3 Orang Kaki Tangan Penggedor Ketangkap”, Suara Merdeka, 26 May 1950.
  17. “Dibegal Di Jalan Umum Duwet”, Suara Merdeka, 6 May 1950.
  18. “Dompet Merapi”, Suara Merdeka, 21 January 1954.
  19. “Kalau Gerombolan Nonton Kethoprak”, Suara Merdeka, 6 January 1954.
  20. “Kesukaran Tentang Air Minum”, Suara Merdeka, 15 August 1950.
  21. “Keterangan Wiwoho: Tentang Pengembalian Jawa Tengah”, Suara Merdeka, 11 February 1950.
  22. “Komplotan Bandit-Bandit Ulung Dibekuk Polisi”, Suara Merdeka, 4 January 1958.
  23. “Lagi ‘Kancil Mas’ Dibongkar Pencuri”, Suara Merdeka, 24 May 1950.
  24. “Lebih Kurang 10.000 Orang Tentara akan Kembali ke Masyarakat”, Suara Merdeka, 26 May 1950.
  25. “Lebih Kurang 70.000 Orang akan Kembali ke Masyarakat”, Suara Merdeka, 5 June 1950.
  26. “Menjual Senjata Api”, Suara Merdeka, 4 December 1956.
  27. “Menyimpan Senjata Tanpa Izin”, Suara Merdeka, 8 November 1955.
  28. “Merapi Tetap Berbahaya”, Suara Merdeka, 21 January 1954.
  29. “Mereka yang Diizinkan Membawa Senjata Api”, Suara Merdeka, 14 June 1957.
  30. “Pendaftaran Senjata Api”, Suara Merdeka, 14 December 1957.
  31. “Perampok di Pedamaran 39 A”, Suara Merdeka, 29 April 1950.
  32. “Ramalan Hujan”, Suara Merdeka, 16 September 1952.
  33. “Rampok Menembak Mati Pegawai DPU di Siang Hari”, Suara Merdeka, 28 January 1954.
  34. “Senjata-Senjata Gelap Ketemu di Semarang”, Suara Merdeka, 6 March 1957.
  35. “Turun dari Kapal Senjata Disita”, Suara Merdeka, 28 March 1957.